Rabu, 27 Oktober 2010

Sebagai panduan memilih raket, berikut adalah paparan ringkas spesifikasi dan istilah untuk raket bulutangkis standar. Spesifikasi berikut memang bukan patokan Standar Internasional, hanya sebagai pedoman umum saja.

1. Kelenturan Gagang (Stiffness of Shaft)
a. Medium (Fleksibel)
Pemindahan sebagian tenaga yang berpusat pada pergelangan tangan. Pemusatan energi untuk tungkai yang fleksibel saat raket diayun memberikan daya tolak lebih besar saat shuttlecock menyentuh raket. Jenis ini sangat baik untuk pertahanan (defensive) atau untuk mengontrol gaya permainan lainnya.

b. Stiff (Limited Flexibility)
Pemindahan tenaga yang memungkinkan dari pergelangan tangan. Tangkai jenis ini sangat dianjurkan untuk teknik permainan bertahan (defensive). Maupn permainan serangan (offensive).

c. Extra Stiff (Minimum Flexibility)
Pemindahan tenaga secara maksimum yang berpusat pada pergelangan tangan. Gerakan tangkai raket yang minimalis memberikan ketepatan yang lebih baik atas penempatan shuttlecock. Raket dengan tangkai jenis ini sangat ideal untuk teknik permainan serangan (offensive) seperti smashing, net kill dan sebagainya.

Bulutangkis di Indonesia


Menyoroti tentang prestasi olahraga bulutangkis diindonesia pada beberapa tahun terakhir sungguh memprihatinkan, padahal pada beberapa tahun sebelumya dapat dilihat prestasi yang mampu diraih Indonesia dalam mengikuti ajang even internasional, Indonesia mampu bicara banyak dan selalu menjadi juara dalam even-even tersebut. Dapat dilihat sejak tahun 60-an. Indonesia memegang peran penting dalam even even international.(Admin, 2008)
Penurunan prestasi bulutangkis diindonesia dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari atlit bulutangkis yang ada diindonesia, kurang adanya pemanfaatan teknologi yang ada dan beberapa faktor lain yang berperan penting. Dari factor teknologi dan fariasi latihan yang kurang ini akan sangat berpengaruh apa lagi bagi atlit bulutangkis pemula atau anak-anak. Atlit pemula dalam suatu prestasi olahraga adalah sebagai tombak masa depan karena mereka yang akan menjadi harapan kita dimasa yang akan datang. Namun kini atlit-atlit tersebut masih tidak mampu bersaing dengan atlit-atlit yang dicetak luar negri seperti cina korea dan negara-negara lain. Dilihat dari model latihan yang digunakan mereka sudah menerapkan pola model latihan yang sangat modern.(Renly , 2009)
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dulu atlit Indonesia mampu menjuarai dan sekarang Indonesia terpuruk dalam hal ini?  Apakah Indonesia tidak menerapkan apa yang dulu atlit indoensia tempuh saat melakukan latihan seperti Rudi hartono dan Susi susanti lakukan? Tapi bukan ini masalah yang sebenarnya kita hadapi, masalah yang kita hadapi adalah teknologi. Di negara lain seperti cina dan korea dalam sebuah latihan dari tahun ketahun selalu mengalami peningkatan perubahan yang selalu selangkah lebih maju dan mengutamakan keefisienan dan keefektifan suatu latihan. Sedangkan di negara kita masih bertumpu pada model latihan yang pernah digunakan oleh atlit-atlit Indoesia yang pernah Berjaya di Eranya padahal dilihat dari keefektifan dan kefisienanya latihan seperti itu pada era saat ini sangatlah jauh tertinggal di bandingkan negara – negara lain dan kurang dapat memanfaatkan teknologi yang ada dalam sebuah latihan. (Metro Sport, 2010)
Dan latihan itu sendiri merupakan sebuah pondasi sukses bagi seorang atlit. Tak mungkin seorang atlit mencapai prestasi yang sangat tinggi tanpa sebuah latihan yang sangat berat. Di Indonesia banyak sekali bibit-bibit atlit olahraga yang dalam hal ini olahraga bulutangkis yang mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat bersaing di kancah internasional. Kita lihat kebelakang banyak kita temui pemusatan-pemusatan latihan dari tingkat daerah mulai Kabupaten sampai tingkat pusat.Dan bahkan dulu di PB Djarum Kudus banyak di jumpai atlit – atlit dari luar negeri yang berlatih bulutangkis di sana. Ini di karenakan prestasi atlit bulutangkis di Indonesia merangsang mereka untuk ingin berlatih dan mendalami model latihan yang di gunakan Indonesia di masa itu. Dari sini dapat kita lihat kejayaan dan sumbangsih Indonesia dalam perkembangan bidang olahraga bulutangkis di dunia pada era tersebut.(Admin, 2007)
SEJARAH OLAHRAGA (History of Sport)
Sejarah olahraga dapat mengajarkan kepada kita arti mengenai perubahan masyarakat dan mengenai olahraga itu sendiri.
Olahraga sepertinya melibatkan kemampuan dasar manusia yang dikembangkan dan dilatih untuk kepentingannya sendiri, yang sejalan dengan dilatih demi kegunaannya. Ini menunjukkan bahwa olahraga itu mungkin sama tuanya dengan keberadaan manusia itu sendiri, yang memiliki tujuan, dan adalah cara yang berguna untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menaklukkan alam dan lingkungan.
SEJARAH OLAHRAGA BANGSA YUNANI PURBA
Keadaan alam memiliki andil yang tidak kecil dalam pembentukan peradaban Yunani. Keadaan geografis ini juga mempermudah adanya desentralisasi politik. Gunung-gunung dan teluk-teluk di Yunani yang tak terhitung banyaknya menghalangi komunikasi melalui darat. Lembah-lembah dan dataran-dataran rendah yang terpisah-pisah merupakan unit-unit geografis dan ekonomi yang bersifat alami. Juga merupakan pemisah kesatuan unit politik yang disebut polis atau negara kota, yang wilayahnya meliputi kota itu sendiri dan daerah-daerah sekitarnya.
Yunani walaupun negeri kecil, memiliki banyak polis. Dua polis yang terkenal dan paling menonjol dalam hal kegiatan jasmani adalah Sparta dan Athena. Kedua polis itu juga dipergunakan untuk memberi ilustrasi adanya dua kutub pencapaian yang berbeda dalam sistem pemerintahan di Yunani. Sparta memiliki sistem pemerintahan oligarkhi militer yang keras dan terisolasi, sedang Athena merupakan pusat percobaan besar di bidang demokrasi.
Bangsa Yunani menganut kepercayaan terhadap dewa-dewa (polytheisme). Dengan membaca karya Homerus (seorang penyair buta dari Asia Minor) memudahkan pemahaman tentang adanya hubungan yang erat sekali antara dewa-dewa dan manusia sebagaimana kepercayaan orang Yunani yang telah mengakar itu. Keluarga besar dewa-dewa Yunani tinggal di gunung salju Olympus (bagian utara Yunani) yang diperintah oleh Zeus dan istrinya, Hera.
SPARTA
Polis Sparta, yang terletak di dataran rendah Laconia, betul-betul terbentuk pada tahun 600 SM. Sparta membangun konstitusinya di atas sistem kasta yang kuat, untuk menjaga kemungkinan timbulnya pemberontakan baik dari dalam maupun dari luar, dengan membagi penduduk menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) Citizens atau orang-orang Sparta sendiri, merupakan 5%-10% dari seluruh penduduk dan mempunyai hak pilih, terdiri dari para penguasa dan tentara; (2) Kaum Helot adalah sebagian besar penduduk Sparta yang terdiri dari kaum tani, buruh tani, dan pelayan orang-orang Sparta; (3) Kaum Perioikoi atau orang yang tinggal di pinggiran (sub-urban), hidup sebagai petani, pekerja tambang, dan pedagang.
Sistem Sparta yang militeristis dan defensif menuntut latihan kemiliteran yang keras dalam masyarakat. Penduduk hidup dalam tradisi yang penuh kedisiplinan. Begitu pula dengan sistem pendidikannya, juga bersifat konservatif-sosial dan aristrokrastis yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga-tenaga terampil di bidang kemiliteran agar mampu membela serta mempertahankan negara dan bangsa dari serangan bangsa lain. Pendidikan di Sparta hanya ditujukan pada pendidikan kejasmanian saja dan mengabaikan pendidikan intelektual, sehingga Sparta tidak mempunyai ahli-ahli filsafat, sejarah ataupun pengarang. Sifat aristrokratis dan sosialis dalam pendidikan di Sparta terlihat pada sifat solidaritas yang terdapat pada kaum yang berkuasa.
Pada usia 7 tahun, anak laki-laki harus meningggalkan orang tuanya untuk memasuki pusat pelatihan militer. Mereka dididik berbagai dan diindoktrinasi untuk cinta kepada tanah air. Membaca dan musik juga diajarkan, namun lebih dari itu mereka juga berlatih berkelahi, pentathlon (lempar cakram, lempar lembing, lompat jauh, dan gulat), serta menggunakan senjata. Gadis-gadis juga menjalankan latihan fisik yang keras yang juga nantinya dapat menjadi seorang ibu yang kuat pula. Pada usia 18 tahun, remaja-remaja tersebut disebar keseluruh daerah untuk bertugas sebagai pengawas kaum Helot dan Perioikoi, juga bertugas sebagai pengawas daerah. Berburu merupakan salah satu bentuk ujian yang digunakan untuk menentukan tingkat kemampuan tubuh yang dicapai. Pada usia 30 tahun , setelah dibina dan dilatih dengan cara berat yang penuh tantangan dan resiko, para pemuda diakui dan diberi hak sebagai orang dewasa. Pada masa dewasa inilah mereka baru diijinkan untuk berumah tangga dan berpolitik. Pendidikan kepada anak-anak gadis di Sparta ditekankan pula pada perkembangan jasmaninya, sehingga mereka juga melakukan latihan jasmani bersama dengan para pemuda.
ATHENA
Polis Athena (terletak di Attica, Yunani Timur) merupakan polis yang paling menarik, berpengaruh, bebas, dan makmur diantara polis-polis lainnya . Pengaruh kekuasaanya mencapai puncaknya selama pemerintahan Pericles (461-429 SM).
Penduduk Athena terdiri dari penduduk asli, budak dan metich (penduduk asing). Sistem pendidikan di Athena bersifat liberal, individual, dan demokratis untuk menuju pada Epebhe Athena, yaitu warga negara yang harmonis, sehat dan kuat, cerdas otaknya, serta luhur budi pekertinya. Semua orang mendapatkan pendidikan sesuai dengan kedudukannya di masyarakat. Orang kaya dan bangsawan harus belajar ilmu pengetahuan dan kebudayaan, orang miskin belajar bertani dan kerajinan tangan, sedangkan anak-anak belajar membaca dan berenang.
Sebelum usia 7 tahun pendidikan bagi anak-anak merupakan tanggung jawab keluarga. Pada usia 7 tahun keatas, anak-anak diserahkan kepada drammatist untuk belajar membaca, berhitung, dan menulis, serta belajar ilmu musik dan menyanyi dari seorang chitarist. Anak-anak usia 14-18 tahun diberi latihan-latihan jasmani (berupa senam) dari seorang paidotribe. Setelah usia 20 tahun, mereka diakui sebagai warga negara penuh, berhak dan berkewajiban seperti orang dewasa.
Latihan-latihan jasmani untuk anak-anak orang kaya dilakukan gymnasium, dan yang lainnya di palaestra. Perlu pula diketahui bahwa mereka, kaum pria maupun wanita bangsa Athena, melakukan latihan-latihan jasmani dengan gymnos (telanjang), yang betujuan untuk memberikan kesempatan pada otot-otot tubuh dapat berkembang dengan sebaik-baiknya tanpa rintangan.
Untuk memuja dewa-dewa, bangsa Yunani mengadakan suatu pesta. Adapun pesta tersebut yang dikenal 4 macam, sebagai berikut. (1) Olympia. Pesta ini diadakan setiap 4 tahun sekali digunung Olympus yang bertujuan untuk menghormati dewa Zeus. Meskipun pesta ini hanya berlangsung selama lima hari, namun orang-orang Yunani memandangnya dengan begitu agung. Setiap peserta sangat diperhatikan agar dapat datang dan kembali dalam keadaan selamat, serta selama mengikuti pesta ini serta diharapkan tidak menemui rintangan apapun. Pesta Olympia memperlombakan lari, lompat jauh, lompat tinggi , dan lempar cakram. Juga lomba menggubah musik, puisi, dan meniup terompet, bahkan kontes kecantikan dan minum. Para pemenang dalam setiap lomba menerima mahkota yang terbuat dari daun salam. Cabang olahraga yang terkenal adalah marathon. (2) Phytia. Mula-mula pesta ini merupakan pesta musik untuk menghormati dewa Apollo (dewa cahaya dan kebenaran), lalu lalu ditambah dengan pesta olahraga. Tempat penyelenggaraannya di Delphi dan waktunya 4 tahun sekali. Olahraga yang paling menonjol da lam pesta ini adalah pacuan kuda dan perlombaan kereta (chariot race). (3) Isthmia. Pesta ini berlangsung di Chorintus. Acara pertandingannya yaitu berkuda, bersampan, dan musik, yang tujuannya untuk menghormati dewa Poseidon (dewa laut). Cabang olahraga yang lain meliputi main bola, angkat besi, tinju, gulat, pertarungan antar gladiator, dan perkelahian antara manusia dengan binatang. (4) Nemea. Pesta ini bertujuan untuk menghormati dewi Hera (istri dewa Zeus), dan diselenggarakan di Acropolis. Cabang-cabang olahraga yang diperlombakan hampir sama dengan pesta Isthmia.
Keharmonisan antara pembentukan gymnist (kejasmanian) serta musis (kerokhanian dan kesenian) pada abad keempat agak mundur dan terganggu karena adanya beberapa faktor, yaitu: (1) timbulnya perkembangan kebudayaan dan pengetahuan; (2) mundurnya hidup keagamaan dan nasionalisme; dan (3) kekayaan serta hidup serba mewah yang meliputi para pemuda.


sejarah bulutangkis

Bulutangkis atau badminton adalah suatu olahraga raket yang dimainkan oleh dua orang (untuk tunggal) atau dua pasangan (untuk ganda) yang berlawanan.
Mirip dengan tenis, bulutangkis dimainkan dengan pemain di satu sisi bertujuan memukul bola permainan ("kok" atau "shuttlecock") melewati net agar jatuh di bidang permainan lawan yang sudah ditentukan. Dia juga harus mencoba mencegah lawannya melakukan hal tersebut kepadanya.
Partai
Ada lima partai yang biasa dimainkan dalam bulutangkis. Mereka adalah:
1. Tunggal putra
2. Tunggal putri
3. Ganda putra
4. Ganda putri
5. Ganda campuran
Sejak 1 Februari 2006, seluruh partai memakai sistem "pemenang dua dari tiga set" (best of three) yang masing-masing diraih dengan mencapai 21 poin secara rally point.
Memainkan bulutangkis
Tiap pemain atau pasangan mengambil posisi pada kedua sisi jaring di atas wilayah persegi panjang yang ditandai di lantai sebagaimana diperlihatkan di diagram.
Tujuan permainan adalah untuk memukul sebuah kok menggunakan raket, melompati jaring ke wilayah di seputar batasan/aras tertanda sebelum pemain atau pasangan lawan bisa memukulnya balik. Untuk setiap kali ini berhasil dilakukan oleh regu yang menyervis, pemain atau pasangan penyervis (peladen) mencetak skor satu poin. Setelah memenangi satu poin, pemain yang sama menyervis kembali, dan terus menyervis sepanjang mereka terus mencetak poin. Apabila regu yang tak menyervis memenangkan reli ini, tiada poin dicetak oleh mereka tetapi ada pergantian penyervis. Dalam permainan ganda, seorang peladen memulai permainan, dan setelah kalah sebuah reli, servis berpindah ke regu lawan. Dari waktu itu ke depannya, kedua pemain pada seregu bergantian menyervis (meladen) sebelum servis kembali berpindah kepada lawan mereka. Pemain di sisi servis tangan kanan selalu memulai servis.

Wilayah servis 
Gelanggang badminton
Tiap-tiap pemain menetapkan di antara dua wilayah servis. Ada wilayah servis untuk tunggal, yakni berlebar 5,18 meter dan panjangnya 13,40 meter. Areal servis untuk ganda berukuran 6,10 meter pada lebarnya dan 11,88 meter panjangnya. Wilayah servis dibagi dua belahan. Di tengah-tengah lapangan berdiri jaring/net, yakni 1,55 meter tingginya. Garis-garis servis pendek berentang 1,98 meter dari jaring. Kotak servis kiri dan kotak servis kanan dipisahkan oleh garis di tengahnya.
Perlengkapan
• Raket: Secara tradisional raket dibuat dari kayu. Kemudian aluminium atau logam ringan lainnya menjadi bahan yang dipilih. Kini, hampir semua raket bulutangkis profesional berkomposisikan komposit serat karbon (plastik bertulang grafit). Serat karbon memiliki kekuatan hebat terhadap perbandingan berat, kaku, dan memberi perpindahan energi kinetik yang hebat. Namun, sejumlah model rendahan masih menggunakan baja atau aluminium untuk sebagian atau keseluruhan raket.
• Kok: Kok adalah bola yang digunakan dalam olahraga bulutangkis, terbuat dari rangkaian bulu angsa yang disusun membentuk kerucut terbuka, dengan pangkal berbentuk setengah bola yang terbuat dari gabus. Dalam latihan atau pertandingan tidak resmi digunakan juga kok dari pelastik.
• Senar: Mungkin salah satu dari bagian yang paling diperhatikan dalam bulutangkis adalah senar nya. Jenis senar berbeda memiliki ciri-ciri tanggap berlainan. Keawetan secara umum bervariasi dengan kinerja. Kebanyakan senar berketebalan 21 ukuran dan diuntai dengan ketegangan 18 sampai 30+ lb. Kesukaan pribadi sang pemain memainkan peran yang kuat dalam seleksi senar.
• Sepatu: Karena percepatan sepanjang lapangan sangatlah penting, para pemain membutuhkan pegangan dengan lantai yang maksimal pada setiap saat. Sepatu bulutangkis membutuhkan sol karet untuk cengkraman yang baik, dinding sisi yang bertulang agar tahan lama selama tarik-menarik, dan teknologi penyebaran goncangan untuk melompat; bulutangkis mengakibatkan agak banyak stres (ketegangan) pada lutut dan pergelangan kaki.
• Net: Bulutangkis tidak akan pernah bisa berjalan tanpa perlengkapan yang satu ini. Net merupakan pembatas antara bidang permainan pemain yang satu dengan yang lain. Tinggi net kurang lebih 152 cm dan sama untuk semua jenis permainan, baik itu tunggal maupun ganda, putri maupun putra.
Sejarah
Olah raga yang dimainkan dengan kok dan raket, kemungkinan berkembang di Mesir kuno sekitar 2000 tahun lalu tetapi juga disebut-sebut di India dan Tiongkok.
Nenek moyang terdininya diperkirakan ialah sebuah permainan Tionghoa, Jianzi yang melibatkan penggunaan kok tetapi tanpa raket. Alih-alih, objeknya dimanipulasi dengan kaki. Objek/misi permainan ini adalah untuk menjaga kok agar tidak menyentuh tanah selama mungkin tanpa menggunakan tangan.
Di Inggris sejak zaman pertengahan permainan anak-anak yang disebut Battledores dan Shuttlecocks sangat populer. Anak-anak pada waktu itu biasanya akan memakai dayung/tongkat (Battledores) dan bersiasat bersama untuk menjaga kok tetap di udara dan mencegahnya dari menyentuh tanah. Ini cukup populer untuk menjadi nuansa harian di jalan-jalan London pada tahun 1854 ketika majalah Punch mempublikasikan kartun untuk ini.
Penduduk Inggris membawa permainan ini ke Jepang, Republik Rakyat China, dan Siam (sekarang Thailand) selagi mereka mengolonisasi Asia. Ini kemudian dengan segera menjadi permainan anak-anak di wilayah setempat mereka.
Olah raga kompetitif bulutangkis diciptakan oleh petugas Tentara Britania di Pune, India pada abad ke-19 saat mereka menambahkan jaring/net dan memainkannya secara bersaingan. Oleh sebab kota Pune dikenal sebelumnya sebagai Poona, permainan tersebut juga dikenali sebagai Poona pada masa itu.
Para tentara membawa permainan itu kembali ke Inggris pada 1850-an. Olah raga ini mendapatkan namanya yang sekarang pada 1860 dalam sebuah pamflet oleh Isaac Spratt, seorang penyalur mainan Inggris, berjudul "Badminton Battledore - a new game" ("Battledore Bulutangkis - sebuah permainan baru"). Ini melukiskan permainan tersebut dimainkan di Gedung Badminton (Badminton House), estat Duke of Beaufort's di Gloucestershire, Inggris.
Rencengan peraturan yang pertama ditulis oleh Klub Badminton Bath pada 1877. Asosiasi Bulutangkis Inggris dibentuk pada 1893 dan kejuaraan internasional pertamanya berunjuk-gigi pertama kali pada 1899 dengan Kejuaraan All England.
Bulutangkis menjadi sebuah olah raga populer di dunia, terutama di wilayah Asia Timur dan Tenggara, yang saat ini mendominasi olah raga ini, dan di negara-negara Skandinavia.
International Badminton Federation (IBF) didirikan pada 1934 dan membukukan Inggris, Irlandia, Skotlandia, Wales, Denmark, Belanda, Kanada, Selandia Baru, dan Prancis sebagai anggota-anggota pelopornya. India bergabung sebagai afiliat pada 1936. Pada IBF Extraordinary General Meeting di Madrid, Spanyol, September 2006, usulan untuk mengubah nama International Badminton Federation menjadi Badminton World Federation (BWF) diterima dengan suara bulat oleh seluruh 206 delegasi yang hadir.
Olah raga ini menjadi olah raga Olimpiade Musim Panas di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memperoleh masing-masing dua medali emas tahun itu.